Dengan semakin banyaknya blogger, maka semakin banyak pertanyaan dari para pemilik blog untuk dapat mempercantik blognya masing-masing. Pertanyaan terbanyak dari pengguna Blogger.com adalah bagaimana memotong tampilan tulisan agar tidak muncul semuanya di halaman depan. Bayangkan saja, apabila tulisannya panjang, maka tampilan depan akan jadi sangat jelek karena seakan-akan hanya berisi satu tulisan saja. Di Wordpress, hal ini tersedia secara default. Aneh juga bahwa Blogger.com (milik raksasa Google ini) tidak memiliki fasilitas ini.
Dengan dipotong, maka tulisan di halaman muka akan hanya menampilkan 1-2 paragraf awal, selanjutnya muncul tulisan "Read more..." atau "Baca selengkapnya...". Mahasiswa saya banyak sekali yang menanyakan hal ini. Berikut saya sampaikan link tutorialnya dalam bahasa Indonesia. Silahkan klik "Read more..." dibawah ini :-)
Tutorial petunjuknya dibuat oleh Isnaini.com, salah satu blog Indonesia yang sangat banyak pengunjungnya. Dia juga adalah salah satu pionir "internet marketing" di Indonesia. Silahkan juga baca tulisan-tulisan ybs lainnya. Klik disini untuk belajar membuat "Read more...".
Saya peringatkan, bahwa petunjuk ini memerlukan ketelitian untuk mengikutinya, namun pada dasarnya tidak memerlukan keterampilan programming apapun. Ikuti petunjuknya secara seksama, backup dulu template anda.
Semoga bermanfaat.
Search This Blog
26 November 2007
Wikipedia untuk Pendidikan
Wikipedia adalah teknologi Web 2.0 yang sangat bagus dan berkembang sangat pesat. Terbukti juga bahwa Wikipedia sangat beranfaat bagi dunia pendidikan termasuk di Indonesia. Namun memang masih banyak hal yang harus kita perhatikan agar kita dapat memanfaatkan Wikipedia semaksimal mungkin serta meminimalkan dampak negatifnya, silahkan baca posting saya sebelumnya berjudul Kuatir tentang Wikipedia.
Berikut saya share PowerPoint slides mengenai berbagai kemungkinan pemanfaatan Wikipedia utk pendidikan, terutama pada cara-cara melakukan hal dasar di Wikipedia. Bayangkan apabila bisa banyak orang Indonesia ikut menyumbang materi, wah sip... Silahkan download juga file aslinya melalui SlideShare.net berikut ini.
Semoga bermanfaat, apabila ada masukan tentu saja akan sangat bermanfaat bagi saya.
Berikut saya share PowerPoint slides mengenai berbagai kemungkinan pemanfaatan Wikipedia utk pendidikan, terutama pada cara-cara melakukan hal dasar di Wikipedia. Bayangkan apabila bisa banyak orang Indonesia ikut menyumbang materi, wah sip... Silahkan download juga file aslinya melalui SlideShare.net berikut ini.
Semoga bermanfaat, apabila ada masukan tentu saja akan sangat bermanfaat bagi saya.
23 November 2007
Pemanfaatan ICT untuk Pendidikan
Beberapa contoh pemanfaatan ICT bagi pendidikan yang saya kumpulkan dari kunjungan, diskusi dan masukan-masukan dari para kolega serta mahasiswa saya di Program Pasca Sarjana Kependidikan, Universitas Mulawarman, Samarinda, Kalimantan Timur. Saya buat dalam file PowerPoint yang bisa juga didownload langsung aslinya dibawah ini.
CIO untuk Sekolah (Fakta Pendukung)
Mendukung tulisan saya sebelumnya mengenai CIO untuk Sekolah yang sempat saya lempar ke beberapa milis dan mendapat tanggapan cukup baik di milis Dikmenjur, saya sampaikan beberapa cerita fakta di lapangan dari para penjuang IT kita yang bekerja keras dengan semangat tinggi di pelosok-pelosok nusantara. Kalau ada tambahan?
Kepsek dapat update yg baik mengenai ICT dari orang terpercaya (CIO). Para teknisi operasional bisa selalu berkomunikasi intensif melalui CIO ini. Jadi komunikasi tdk putus, baik dalam perencanan, implementasi dan tindakan perbaikan.
Berikut adalah pandangan yang juga sangat menarik karena berisi cerita pak Bambang Riadi mengenai keadaan atau pengalamannya di lapangan.
CIO (terjemahan: Wakasek Bidang Pemanfaatan ICT) mungkin adalah salah satu cara yg bisa memperbaiki.
Yang berikut ini "unek-unek" pak Arman yang saya pikir adalah karena "leadership" yang belum punya perhatian cukup untuk pengembangan ICT.
arman puspaCerita pak Arman ini jelas memperlihatkan betapa jauhnya jarak komunikasi antar pucuk pimpinan (Kepsek) dengan staf/teknisi operasional ICT di lapangan. Harapannya, jika ada jembatan antara keduanya berupa posisi cukup tinggi yg didedikasikan utk mengurusi pemanfaatan ICT, maka gap komunikasi tadi bisa dipersempit.
ini kenyataan, ketika belum otda dan ketika waktu masih mengajar di smk saya pernah merasakan hal itu, baru masuk jadi guru honorer ternyata puluhan unit komputer di smk tsb gak bisa dipakai, selama kurang lebih 15 hari instal komputer selesai 23 unit, dan hampir didemo siswa. yg lebih parah anggaran perawatan gak ada, mungkin ada tapi gak dikasih. akhirnya ngutang jaminannya ya saya, eee ... setelah ada tagihan katanya gak ada dana, "dari situlah saya disorot korup oleh guru2 lama" akhirnya hampir 2 tahun baru bisa bayar, itupun sama ka. kurikulum saya disuruh buka kursus di bawah unit produksi, setelah bayar gaji saya sisa angsuran siswa untuk bayar utang pengadaan komponen hardware, akhirnya mati lah saya gak dipercaya lagi sama teman dan jalan buntu kalau ada perlu.
Disitulah pemerintah pinternya ngadain sarana prasarana namun sdm belum disiapkan. yang bener sdm disiapkan dulu baru sarana dan prasarana didatangkan (nah kamu ketahuan..... hanya kejar proyek) tidak hanya itu kalau mau ada sidak dari pusat guru2 dikondisikan dulu yang baik-baik, borok atau kukurangannya disembunyikan, tapi yang namanya bangkai yang bau busuk juga. (ini cerita pengalaman lho ya), mudahan sekarang sudah baik, dan jujur-jujur.
wss arman puspa
Kepsek dapat update yg baik mengenai ICT dari orang terpercaya (CIO). Para teknisi operasional bisa selalu berkomunikasi intensif melalui CIO ini. Jadi komunikasi tdk putus, baik dalam perencanan, implementasi dan tindakan perbaikan.
"ram_kolo"Cerita pak Ramli ini sekali lagi memperlihatkan problem utama pembangunan ICT di sekolah2 kita...
tak ada kata menyerah sudah menjadi bagian dari emosi pejuang it atau ict di indonesia..........
tak ada kata show of force untuk tujuan belajar dan praktek ict di indonesia...........tak perlu khawatir dengan nilai mubazir........
yang saya khawatirkan adalah guliran bantuan berupa dana segar ke kantong yang salah ........... apalagi klo ditambah pengetahuan pemegang kantong klo it atw ict adalah komputer apalagi klo cuman ngerti kalkulator...........
alhasil banyak pejuang ict yang merana di lapangan......
usul nih buat pak khalid mustafa ........... sering seringlah TOURDA turun ke daerah yang rawan salah faham........ saya sendiri sangat terselamatkan karena pak khalid ke lab.ict kami di timur papua ini ......... Sang Upper termangu dengan ketertinggalan ict kami......
wassalam
ramli said , st
ict center smkn3 kota jayapura...
085254358343
Berikut adalah pandangan yang juga sangat menarik karena berisi cerita pak Bambang Riadi mengenai keadaan atau pengalamannya di lapangan.
Dalam hal program IT Depdiknas, tepatnya PSMK sudah cukup bagus walaupun keterlaksanaannya masih belum optimal. Kita lihat mulai dari JIS, Schomap, Jardiknas, Program D3 TKJ (atau sejenisnya, seperti Tenaga MRIT) belum dirasakan oleh semua sekolah.Pejuang ICT di level operasional semangatnya luar biasa tinggi (sampai hutang dari kantong pribadi utk kepentingan lab sekolah). Namun pucuk pimpinan sangat rendah awareness/wawasan/kepeduliannya. Terjadilah "gap komunikasi" yg parah. Kalau ini tdk dibereskan, sulit sekali bisa "take off".
Bagi sekolah yang Kepseknya (atau minimal Wakilnya) melek IT memang berhasil atau setidaknya bisa mengikuti kebijakan PSMK. Menurut saya solusinya adalah memberdayakan guru-guru IT yang ada di sekolah dengan mengupgrade kompetensi mereka melalui penataran mulai dari Teknisi, Jaringan/Networking, sampai Bahasa Pemograman dan program-program lain yang dianggap perlu. Alasannya yaitu, umumnya guru IT adalah mereka yang berlatar belakang bukan komputer (tapi pernah kursus komputer, itupun sebatas operator MS-Office) jadi penguasaan masih kurang. Ketika komputer di sekolah rusak, atau mau membuat jaringan atau membuat program tertentu sekolah mengalami kesulitan. Kalau menerima tenaga baru/tenaga honorer banyak umumnya sekolah keberatan karena akan menambah biaya operasional. Untuk jangka panjang mungkin ini lebih baik daripada program-program yang pernah dilakukan selama ini, walaupun dibutuhkan waktu yang lama.
"bambang_riadi"
CIO (terjemahan: Wakasek Bidang Pemanfaatan ICT) mungkin adalah salah satu cara yg bisa memperbaiki.
Yang berikut ini "unek-unek" pak Arman yang saya pikir adalah karena "leadership" yang belum punya perhatian cukup untuk pengembangan ICT.
Begini Bapak2 dan ibu saya menyampaikan fakta di tahun 1997 s.d 2000 an lah, yang saat itu smk banyak menerima bantuan komputer, dan saya pernah di tahun 1997 di smk yang saya tempati ada kurang labih 60 unit komputer dari dari 386 dx s.d P1, namun waktu saya masuk pertama kali di th tsb, Kompnya tidak dapat beroperasi semua, nah kenapa? Karena kesalahan pemerintah yg langsung menerima masukan dan menetapkan anggaran terus dilaksanakan tidak survai kelapangan dulu tentang SDM, sehingga banyak peralatan yang mubadzir, (maaf sekolah tersebut hampir di demo setiap tahunnya, tetapi ketika saya di sana gak pernah terlaksana karena mereka selalu minta pertimbangan dengan saya dan mau merima saran saya, setelah saya ga disana langsung di demo ketika mulai otda walaupun ada mata2 sekolah yg selalu menyelidi saya dikiranya saya yg ngompori " pakai intel lah")Akhirnya, berikut adalah cerita nyata dari rekan Khoir dari Malang yang bahkan telah menerapkan konsep CIO di sekolahnya. Mungkin bisa dijadikan acuan kedepan dalam menerapkannya.
Menurut sya jangan dilaksanakan dulu proyek 1 T ini, tapi dalam 6 bulan atau 1 th ini siapkan sdm-nya dulu, dan cukup bagus masukan 'CIO" itu kenapa gak kita kaji kemudian kita laksanakan kalau kajian itu meningkatkan efisiensi segalanya dari dana dan tenga. Mungkin akan timbul pertanyaan nah bagaiman 6 bln s.d 1 th sdm dapat disiapkan?
1. sudah ada D3TKJ dan pembimbingnya dapat dimanfaatkan siswanya bisa diberdayakan kan sudah masuk semester 5.
2. Ada perusahaan yg banyak sdm TI, ajukan proposal kerja sama untuk melatih gurunya
3. Guru honorer komputer di sekolah diperhatikan, jangan seperti saya dulu, seorang kepala sekolah tidak bisa menghargai skil seseorang karena cuma honorer, sudah jadi tukang sapu, teknisi merangkap mengajar, tunjangan teknisinya di berikan kepada TU yang dilatih teknisi di bandung tapi gak bisa apa2.
Mungkin timbul pertanyaan, kenapa tahun 1998 pelatihan di bandung bukan bapak yg dikirim?, ya itu tadi "guru honorer" bagi sekolah kan gak masuk hitungan, yang masuk hitungannnya sekolah tenaganya saja dimanfaatkan kalau perlu di peras, gmn gak diperas, wong saya waktu itu kalau pulang dari sekolah paling cepat jam 21.00, kadang jan 24.00 kl ada komputer yang rusak. (Kalau honor jangan tanya, sama dengan mereka bukan jam murni, cukup untuk beli bensin 1 bulan)
arman puspa
Sebenarnya konsep pak CIO itu bagus sekali dan kalo diterapkan bisa menghemat beaya yang lumayan.Keywords: sekolah berbasis ICT, sekolah berbasis IT, sekolah berbasis teknologi informasi, pembelajaran berbasis IT, pembelajaran berbasis teknologi, pembelajaran berbasis ICT, belajar berbasis IT, belajar berbasis ICT, belajar berbasis teknologi
Sekedar sharing di sekolah saya konsep tersebut sudah kami terapkan dan hasilnya lumayan efektif dan efisien. Karena sekolah saya adalah sekolah swasta maka kami harus sehemat dan se-efisien mungkin dalam mengelola sekolah.
Struktur organisasi sekolah kami susun sedemikian rupa dan tidak mengikuti PAKEM pada umumnya. Sekolah2 pada umumnya memiliki kepala sekolah, wakasek, kajur, kabeng dll, sedangkan ditempat saya satu level kami pangkas sehingga menjadi Kepsek, Kepala Bidang Keahlian (MESIN, OTOMOTIF, Elektro &TIK), Kabid. Kesiswaan, dan Kabid Bursa Kerja), dan dibawahnya ada Kabeng dll. Kabid Kurikulum tidak ada. Karena 1 orang waka kurikulum pasti tidak faham kurikulum semua jurusan sehingga masih dibutuhkan KAJUR (dan ini tidak efisien). Kabid memiliki tugas dan tanggung jawab sepenuhnya mengelola Bidang keahlian masing2. Misalnya Kabid TI, dia berkewajiban mengelola dari kurikulum TI, PBM TI, monitoring guru dan lain lain, semuanya sampai maju-mundurnya bidang keahlian menjadi tanggung jawab kabid tersebut. Dan akan terjadi persaingan sportif antar kabid keahlian untuk memajukan bidang keahlian masing-masing. Struktur seperti diatas sudah kami jalankan 10 tahun terakhir dan memang efisien dan efektif.
Jam 'Iyatul Khoir
Chief Of Electric and ICT Departments
VOCATIONAL SCHOOL PGRI 3 Malang
Jl. Raya Tlogomas Gg. IX No. 29 Malang
Phone : 0341-554383
Mobile : +628123312325
CIO untuk Sekolah
Pendapat saya, ada yang salah dengan strategi kebijakan yang dijalankan Depdiknas dalam mendorong pemanfaatan ICT di dunia pendidikan kita, terutama di pendidikan dasar dan menengah. Beberapa informasi yang saya tahu, ada paket bantuan insentif kepada sekolah agar memiliki teknisi R/M komputer. Dibuatlah berbakai paket program pendukung seperti program D3 TKJ diseluruh Indonesia, ada Jardiknas yang membagi-bagi bandwidth gratis ke sekolah-sekolah, dst...
Namun, di lapangan, saya melihat bahwa implementasinya amburadul. Teknisi tidak jelas kerjaannya, tidak pernah ada komunikasi antar orang-orang yang bertanggung jawab masalah ICT di sekolah maupun dalam lingkup daerah, tidak ada program jelas mau kemana pemanfaatan ICT. Kepsek merasa bahwa mereka masih "gaptek" dan menyerahkan sepenuhnya masalah ICT, Jardiknas, dll ke "anak-anak muda" termasuk para teknisi yang statusnya pun belum jelas di sekolah...
Pendapat saya, pendekatan itu bernuansa "bottom up". Mungkin akan lebih efektif "top down". Lihat juga cerita-cerita di lapangan yang mendukung pemikiran ini.
Bereskan dulu leadership dunia pendidikan dalam hal ICT. Maksudnya ICT harus dipikirkan, dirumuskan dan diimplementasi di level yang tinggi di setiap sekolah. Harus ada CIO yang membantu Kepsek untuk peran tersebut. CIO akan menjadi jembatan bagi kebutuhan organisasi dengan para pegambil kebijakan serta para teknisi lapangan. Saya lihat di lapangan, dimana ada leadership yang cukup, ICT akan bisa didorong pemanfaatannya di dunia pendidikan, namun bila tidak, maka sulit untuk dimajukan...
Jadi... mungkin lebih perlu agenda besar-besaran untuk pembentukan CIO di sekolah, baru kemudian diikuti dengan penyediaan perangkat keras, teknisi pendukung, dll. Bahkan, apabila needs bisa di create di sekolah, maka perangkat, teknisi, dll tidak perlu disediakan pemerintah, mereka akan inisiatif cari sendiri.
CIO (Chief Information Officer), ini memang istilah organisasi bisnis. Kita pasti kenal dengan istilah CEO (Chief Executive Officer), nah... kalau dianalogikan ke organisasi sekolah, CEO itu Kepala Sekolah, mungkin CIO bisa diterjemahkan sebagai Wakasek Bidang Teknologi Komunikasi & Informasi.
Maksud utamanya adalah menciptakan posisi/otoritas yang cukup tinggi dalam sekolah yang mengerti dan mampu menyusun strategi dan mengimplementasikan ICT di sekolah. Kenapa bukan Kepsek yang ditraining saja dengan fungsi CIO? Saya pikir, lebih baik cari "orang muda/energik/penuh semangat belajar" utk dijadikan CIO, dari pada melatih Kepsek yang identik dg sifat birokratis/kaku/malas belajar lagi.
Fungsi CIO? Jadi jembatan bagi pengambil keputusan tertinggi dengan layer operasional (guru, siswa, staf/teknisi, orangtua siswa, industri, dll). CIO juga harus mempunyai wawasan ICT yang cukup untuk mampu meng-explore kemungkinan pemanfaatan ICT di sekolah serta menidaklanjuti potensi-potensi yang mungkin diimplementasi.
Tujuan? Tentu saja menjadikan sekolah menjadi melek dan butuh ICT.
Tentu saja ini perjalanan jauh... tapi saya punya keyakinan bahwa pendekatan ini akan lebih "kena sasaran" bila kita belajar dari keadaan realistis di lapangan.
Pemikiran ini juga murni muncul karena kekuatiran atas SDM, Hardware, Software dan Network yang akhirnya waste karena tidak ada "ICT leadership" di sekolah-sekolah. Kebetulan ada cukup banyak fakta di lapangan yang mendukung.
Bayangkan bila benar isu bantuan komputer pemerintah pusat senilai Rp 1 triliun kepada sekolah-sekolah di seantero nusantara, apa yang akan terjadi bila organisasi sekolah-sekolah tidak siap untuk memanfaatkan dan memeliharanya?
Yang mana duluan? CIO dulu baru yang lain, atau sebaliknya? Saya pikir hal ini bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah.
Berapa lama? Mungkin bisa beberapa pendekatan yang dipakai untuk "mencetak" para CIO Sekolah ini. Kalau di UGM ada S2 CIO, atau Dikmenjur punya D3 TKJ, saya pikir pendekatan tahap awal adalah memberi semacam "intensive training" 1-2 bulan dengan tekanan pada hands-on experience, pembukaan wawasan, serta change management. Ingat bahwa mereka tidak perlu belajar aspek teknis terlalu jauh. Kedepan mungkin bisa dipikirkan bentuk pengayaan lebih advance seperti program S2. Tapi memang pasti akan jadi program yg sangat panjang kalau mau diterapkan secara nasional.
Keywords: sekolah berbasis ICT, sekolah berbasis IT, sekolah berbasis teknologi informasi, pembelajaran berbasis IT, pembelajaran berbasis teknologi, pembelajaran berbasis ICT, belajar berbasis IT, belajar berbasis ICT, belajar berbasis teknologi
Namun, di lapangan, saya melihat bahwa implementasinya amburadul. Teknisi tidak jelas kerjaannya, tidak pernah ada komunikasi antar orang-orang yang bertanggung jawab masalah ICT di sekolah maupun dalam lingkup daerah, tidak ada program jelas mau kemana pemanfaatan ICT. Kepsek merasa bahwa mereka masih "gaptek" dan menyerahkan sepenuhnya masalah ICT, Jardiknas, dll ke "anak-anak muda" termasuk para teknisi yang statusnya pun belum jelas di sekolah...
Pendapat saya, pendekatan itu bernuansa "bottom up". Mungkin akan lebih efektif "top down". Lihat juga cerita-cerita di lapangan yang mendukung pemikiran ini.
Bereskan dulu leadership dunia pendidikan dalam hal ICT. Maksudnya ICT harus dipikirkan, dirumuskan dan diimplementasi di level yang tinggi di setiap sekolah. Harus ada CIO yang membantu Kepsek untuk peran tersebut. CIO akan menjadi jembatan bagi kebutuhan organisasi dengan para pegambil kebijakan serta para teknisi lapangan. Saya lihat di lapangan, dimana ada leadership yang cukup, ICT akan bisa didorong pemanfaatannya di dunia pendidikan, namun bila tidak, maka sulit untuk dimajukan...
Jadi... mungkin lebih perlu agenda besar-besaran untuk pembentukan CIO di sekolah, baru kemudian diikuti dengan penyediaan perangkat keras, teknisi pendukung, dll. Bahkan, apabila needs bisa di create di sekolah, maka perangkat, teknisi, dll tidak perlu disediakan pemerintah, mereka akan inisiatif cari sendiri.
CIO (Chief Information Officer), ini memang istilah organisasi bisnis. Kita pasti kenal dengan istilah CEO (Chief Executive Officer), nah... kalau dianalogikan ke organisasi sekolah, CEO itu Kepala Sekolah, mungkin CIO bisa diterjemahkan sebagai Wakasek Bidang Teknologi Komunikasi & Informasi.
Maksud utamanya adalah menciptakan posisi/otoritas yang cukup tinggi dalam sekolah yang mengerti dan mampu menyusun strategi dan mengimplementasikan ICT di sekolah. Kenapa bukan Kepsek yang ditraining saja dengan fungsi CIO? Saya pikir, lebih baik cari "orang muda/energik/penuh semangat belajar" utk dijadikan CIO, dari pada melatih Kepsek yang identik dg sifat birokratis/kaku/malas belajar lagi.
Fungsi CIO? Jadi jembatan bagi pengambil keputusan tertinggi dengan layer operasional (guru, siswa, staf/teknisi, orangtua siswa, industri, dll). CIO juga harus mempunyai wawasan ICT yang cukup untuk mampu meng-explore kemungkinan pemanfaatan ICT di sekolah serta menidaklanjuti potensi-potensi yang mungkin diimplementasi.
Tujuan? Tentu saja menjadikan sekolah menjadi melek dan butuh ICT.
Tentu saja ini perjalanan jauh... tapi saya punya keyakinan bahwa pendekatan ini akan lebih "kena sasaran" bila kita belajar dari keadaan realistis di lapangan.
Pemikiran ini juga murni muncul karena kekuatiran atas SDM, Hardware, Software dan Network yang akhirnya waste karena tidak ada "ICT leadership" di sekolah-sekolah. Kebetulan ada cukup banyak fakta di lapangan yang mendukung.
Bayangkan bila benar isu bantuan komputer pemerintah pusat senilai Rp 1 triliun kepada sekolah-sekolah di seantero nusantara, apa yang akan terjadi bila organisasi sekolah-sekolah tidak siap untuk memanfaatkan dan memeliharanya?
Yang mana duluan? CIO dulu baru yang lain, atau sebaliknya? Saya pikir hal ini bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah.
Berapa lama? Mungkin bisa beberapa pendekatan yang dipakai untuk "mencetak" para CIO Sekolah ini. Kalau di UGM ada S2 CIO, atau Dikmenjur punya D3 TKJ, saya pikir pendekatan tahap awal adalah memberi semacam "intensive training" 1-2 bulan dengan tekanan pada hands-on experience, pembukaan wawasan, serta change management. Ingat bahwa mereka tidak perlu belajar aspek teknis terlalu jauh. Kedepan mungkin bisa dipikirkan bentuk pengayaan lebih advance seperti program S2. Tapi memang pasti akan jadi program yg sangat panjang kalau mau diterapkan secara nasional.
Keywords: sekolah berbasis ICT, sekolah berbasis IT, sekolah berbasis teknologi informasi, pembelajaran berbasis IT, pembelajaran berbasis teknologi, pembelajaran berbasis ICT, belajar berbasis IT, belajar berbasis ICT, belajar berbasis teknologi
20 November 2007
Tulisan Terpopuler di Blog Saya
Dari sekian banyak tulisan saya di beberapa blog milik saya, tulisan yang paling banyak mendapat kunjungan berjudul "Harry Potter 7, Mau?". Blog entry saya ini sejak di posting 3 bulan lalu telah mendapat hampir 1000 pageviews, sebagian besar berasal dari hasil search engine. Bagi saya, ini hal luar biasa.
Hampir dipastikan yang mengunjungi adalah para penggemar Harry Potter dan pencari file gratis buku Harry Potter 7 terbaru. Yang menarik, tentu saja karena siapa sih saya? Dari desa kecil Loa Bakung saya bisa kecil-kecilan berkontribusi sesuatu bagi dunia. Mudah-mudahan mendapat pahala :-)
Siapapun seharusnya bisa berbuat hal sama, dimanapun anda berada, siapapun anda...
Hampir dipastikan yang mengunjungi adalah para penggemar Harry Potter dan pencari file gratis buku Harry Potter 7 terbaru. Yang menarik, tentu saja karena siapa sih saya? Dari desa kecil Loa Bakung saya bisa kecil-kecilan berkontribusi sesuatu bagi dunia. Mudah-mudahan mendapat pahala :-)
Siapapun seharusnya bisa berbuat hal sama, dimanapun anda berada, siapapun anda...
19 November 2007
Asia Blogging Network
Namanya boleh juga... Isinya? Sangat bagus. Ini ajang blogger Indonesia yang mau unjuk gigi secara global. Makanya setahu saya dulu, awalnya blog aggregator ini dibuat hanya bagi para blogger Indonesia yang menulis dalam bahasa Inggris. Saat ini, walau tampilan utamanya adalah blog entry berbahasa Inggris, masuk juga blog entry lain yang berbahasa Indonesia. Tampaknya pengelola mulai menyerah pada kenyataan bahwa susah mengharapkan orang kita menulis dalam bahasa lain :-)
Yang menarik, Asia Blogging Network di http://asiablogging.com/ saat ini membuat channel kumpulan blog yang dibuat per kota asal bloggernya, seperi Yogyakarta, Palembang, dll. Situs ini agak berbeda dengan blog aggregator atau blog portal yang lain karena tidak sekedar jadi RSS reader saja, tapi membuat platform blog sendiri. Jadi member melakukan posting langsung disini. Menurut saya, kelemahan utamanya atalah tema isi yang sangat luar range-nya. Susah berharap pengunjung bisa bertahan lama kalau harus membaca banyak entry yang diluar minatnya. Anyway, bravo... ini kerja besar...
Mudah-mudahan bisa semakin maju. Dibanding tampilan yang pernah saya kunjungi 4-5 bulan lalu, situs ini berkembang pesat sekali. Terutama di channel per kota, cukup ramai...
Yang menarik, Asia Blogging Network di http://asiablogging.com/ saat ini membuat channel kumpulan blog yang dibuat per kota asal bloggernya, seperi Yogyakarta, Palembang, dll. Situs ini agak berbeda dengan blog aggregator atau blog portal yang lain karena tidak sekedar jadi RSS reader saja, tapi membuat platform blog sendiri. Jadi member melakukan posting langsung disini. Menurut saya, kelemahan utamanya atalah tema isi yang sangat luar range-nya. Susah berharap pengunjung bisa bertahan lama kalau harus membaca banyak entry yang diluar minatnya. Anyway, bravo... ini kerja besar...
Mudah-mudahan bisa semakin maju. Dibanding tampilan yang pernah saya kunjungi 4-5 bulan lalu, situs ini berkembang pesat sekali. Terutama di channel per kota, cukup ramai...
16 November 2007
Speedy 400 kbps dari Loa Bakung
Siapa bilang akses Internet dari Samarinda pelan? Malam ini, pukul 2:00 dini hari, saya melakukan tes 2x menggunakan broadband speed test dari CNET Australia. Jadi mengukur kecepatan akses dari komputer saya ke titik server CNET di Autralia. Hasilnya? Pertama 403 kbps, kedua 400 kbps (dalam bit, bukan byte, 1 byte=8 bit). Padahal janji Telkom Speedy sendiri menggunakan teknologi ADSL, kecepatan maksimum adalah 384 kbps.
Sangat cepat bagi saya, download file cepat sekali, nonton video juga lebih lancar. Sayang saya dibatasi kuota traffic 1 GB, jadi walau cepat, harus tetap dibatasi agar tidak bobol bayar rekening diakhir bulan.
Sebagai informasi, speed test semacam ini memang tidak bisa dijadikan pegangan untuk mengukur performance sambungan Internet. Ada banyak faktor yang mempengaruhi. Namun paling tidak kita bisa mendapatkan gambaran atas keadaan sambungan kita.
Sangat cepat bagi saya, download file cepat sekali, nonton video juga lebih lancar. Sayang saya dibatasi kuota traffic 1 GB, jadi walau cepat, harus tetap dibatasi agar tidak bobol bayar rekening diakhir bulan.
Sebagai informasi, speed test semacam ini memang tidak bisa dijadikan pegangan untuk mengukur performance sambungan Internet. Ada banyak faktor yang mempengaruhi. Namun paling tidak kita bisa mendapatkan gambaran atas keadaan sambungan kita.
15 November 2007
Agenda ICT Obama
Obama, calon presiden USA, akan berkunjung ke Googleplex & tempat lain di Silicon Valley. Dia juga sudah punya agenda khusus utk pengembangan ICTnya. Dibawah saya paste berita singkatnya.
Saya Indonesiakan bbrp hal yg mungkin bisa cocok dengan kita kita:
November 14, 2007 8:42 AM PST
Obama's tech vision: Blogs and wikis for the feds
Posted by Anne Broache
http://www.news.com/8301-10784_3-9816789-7.html?tag=nefd.top
Just in time for a Wednesday visit to the Googleplex and other Silicon Valley outposts, Democratic presidential hopeful Barack Obama plans to take the wraps off his technology platform.
Obama's agenda (PDF), which numbers nine pages, isn't limited to the usual talking points, although they're in there, too: enacting Net neutrality rules, speeding next-generation broadband deployment to all corners of the nation, improving math and science education, beefing up federal research spending, letting in more foreign tech workers, and making the research and development tax credit permanent.
Barack Obama
(Credit: U.S. Senate)
His plan also includes a number of technology-laced provisions aimed at making government more transparent--with the goal of counteracting what he calls "one of the most secretive, closed administrations in American history" under President Bush.
To do that, he would appoint a "chief technology officer" charged not only with making sure all federal agencies' computer systems are up to date, but also with making sure government agencies make their electronic records as open and transparent as federal law requires. The CTO would also oversee construction of a nationwide wireless network for use by public safety responders, as recommended by the 9/11 Commission.
Webcasts of congressional proceedings are already abundant, but Obama proposes providing live Internet feeds of executive branch meetings as often as possible as well. He also wants to make government data available in universally accessible formats, allow the public to comment on nonemergency legislation at the White House Web site for five days before it's signed, and enlist blogs, wikis and social-networking tools in an effort to promote communication among government employees, both internally and across agencies.
The San Jose Mercury News first reported on the agenda early Wednesday morning.
Obama's plan may sweep in a broader set of issues than some of his rivals, but his isn't the first high-tech platform to emerge from a presidential candidate.
Arguably his biggest rival, Hillary Clinton, released a the text of her plan about a month ago. Her "innovation agenda" overlaps in may ways with a Democratic congressional plan of the same name
Among Clinton's ideas are offering tax incentives to providing broadband in underserved areas as part of a platform called "Connect America," doubling the budget for research at federal science and tech agencies, making the research and development tax credit--much beloved by Silicon Valley shops--permanent, and creating a $50 billion "Strategic Energy Fund" partially financed by oil companies and aimed at investing in clean, renewable energy sources.
Saya Indonesiakan bbrp hal yg mungkin bisa cocok dengan kita kita:
- mempercepat next-generation broadband deployment ke seluruh penjuru negeri (versi Hillary Clinton: "Connect America" utk memberi insentif pajak bagi pihak yg membangun koneksi di daerah yg belum terjangkau).
- menunjuk "chief technology officer" yg bertanggung jawab agar seluruh sistem komputer di pemerintah tidak ketinggalan, menjamin bahwa data dan info milik pemerintah bisa diakses open dan transparan.
- membuka kesempatan bagi publik agar bisa memberi masukan pada proses pembuatan peraturan di legislatif melalui website White House.
- mendorong penggunaan blogs, wikis and social-networking tools utk komunikasi pegawai pemerintahan, internal dan eksternal.
- menyediakan live feeds dari rapat-rapat eksekutif pemerintahan.
- dll... baca sendiri, menarik loh...
November 14, 2007 8:42 AM PST
Obama's tech vision: Blogs and wikis for the feds
Posted by Anne Broache
http://www.news.com/8301-10784_3-9816789-7.html?tag=nefd.top
Just in time for a Wednesday visit to the Googleplex and other Silicon Valley outposts, Democratic presidential hopeful Barack Obama plans to take the wraps off his technology platform.
Obama's agenda (PDF), which numbers nine pages, isn't limited to the usual talking points, although they're in there, too: enacting Net neutrality rules, speeding next-generation broadband deployment to all corners of the nation, improving math and science education, beefing up federal research spending, letting in more foreign tech workers, and making the research and development tax credit permanent.
Barack Obama
(Credit: U.S. Senate)
His plan also includes a number of technology-laced provisions aimed at making government more transparent--with the goal of counteracting what he calls "one of the most secretive, closed administrations in American history" under President Bush.
To do that, he would appoint a "chief technology officer" charged not only with making sure all federal agencies' computer systems are up to date, but also with making sure government agencies make their electronic records as open and transparent as federal law requires. The CTO would also oversee construction of a nationwide wireless network for use by public safety responders, as recommended by the 9/11 Commission.
Webcasts of congressional proceedings are already abundant, but Obama proposes providing live Internet feeds of executive branch meetings as often as possible as well. He also wants to make government data available in universally accessible formats, allow the public to comment on nonemergency legislation at the White House Web site for five days before it's signed, and enlist blogs, wikis and social-networking tools in an effort to promote communication among government employees, both internally and across agencies.
The San Jose Mercury News first reported on the agenda early Wednesday morning.
Obama's plan may sweep in a broader set of issues than some of his rivals, but his isn't the first high-tech platform to emerge from a presidential candidate.
Arguably his biggest rival, Hillary Clinton, released a the text of her plan about a month ago. Her "innovation agenda" overlaps in may ways with a Democratic congressional plan of the same name
Among Clinton's ideas are offering tax incentives to providing broadband in underserved areas as part of a platform called "Connect America," doubling the budget for research at federal science and tech agencies, making the research and development tax credit--much beloved by Silicon Valley shops--permanent, and creating a $50 billion "Strategic Energy Fund" partially financed by oil companies and aimed at investing in clean, renewable energy sources.
Tutor Gratis Online
Semakin banyak saja materi online berbahasa Indonesia. Walau belum secepat dalam bahasa lain seperti Inggris dan Cina, namun perkembangan kita sudah lumayan. Mestinya dalam tahun-tahun kedepan akan lebih cepat lagi dengan semakin banyaknya orang Indonesia yang nge-blog.
Yang baru saya temui adalah Tutor Gratis yang beralamat di http://tutor.web.id dimana isi materi disumbang oleh berbagai pihak dan dikutip dari berbagai blog entry para blogger Indonesia lain. Cool... idenya mirip dengan IlmuKomputer.Com. Bravo semuanya.
Jika ada fasilitas baru lainnya, kita share ramai-ramai disini...
Update:
Sayang sekali, saat saya akses lagi hari ini (11 Wei 2008), website Tutor Gratis telah tidak aktif lagi, memang ini adalah kelemahan banyak situs layanan online dari Indonesia. Idenya bagus tapi konsistensinya sangat sulit dijaga...
Yang baru saya temui adalah Tutor Gratis yang beralamat di http://tutor.web.id dimana isi materi disumbang oleh berbagai pihak dan dikutip dari berbagai blog entry para blogger Indonesia lain. Cool... idenya mirip dengan IlmuKomputer.Com. Bravo semuanya.
Jika ada fasilitas baru lainnya, kita share ramai-ramai disini...
Update:
Sayang sekali, saat saya akses lagi hari ini (11 Wei 2008), website Tutor Gratis telah tidak aktif lagi, memang ini adalah kelemahan banyak situs layanan online dari Indonesia. Idenya bagus tapi konsistensinya sangat sulit dijaga...
Subscribe to:
Posts (Atom)
