Search This Blog

Hexatar - Make your own cartoon picture

18 July 2009

Microsoft Bing, Search Engine yang Menyejukkan Mata

Sudah beberapa minggu ini saya "beralih" ke Microsoft Bing dalam membantu saya mencari-cari segala sesuatu di Internet. Sesekali tetap ke Google jika terasa agak kurang puas dengan hasil pencarian yang diberikan Bing. Namun tampaknya saya tidak akan mengalihkan "home" saya di browser dari Bing ke page lain. Setiap masuk ke Internet, dengan antusias saya menunggu "home" saya di Bing mengeluarkan halaman nya yang selalu memberikan surprise. Ya, Bing sangat unik karena search engine ini menggunakan gambar latar, tidak seperti Google yang hanya ada gambar logo Google dengan latar putih polos. Gambar latarnya adalah gambar-gambar alam yang sangat indah dan yang terpenting selalu berganti setiap 24 jam. Mata kita dimanjakan dengan pemandangan-pemandangan super indah dan menyejukkan mata dari berbagai pelosok dunia. Mau merasakannya? Lihat dulu foto-foto latar Bing ang sempat saya kumpulkan beberapa hari belakangan ini. Sayangnya tidak ada informasi yang cukup ditampilkan mengenai gambar-gambar itu.



Saya masih ingat saat Microsoft Live, nama search engine Microsoft ini sebelum berganti menjadi Bing, melakukan hal yang sama sebagai bagian perayaan dunia menyambut Olimpiade Beijing 2008. Gambar latarnya adalah gambar-gambar spektakuler olahraga. Hal yang mirip juga dilakukan oleh Google. Namun dalam bentuk kreasi unik logo Google yang dibuat khusus menyambut peringatan-peringatan hari tertentu, misalnya Earth Day, Christmas dan juga saat Olimpiade. Lihat koleksi logo-logo unik Google saya disini.

Lalu, bagaimana kualitas hasil pencarian Bing dibanding Google yang sudah merajai kancah search engine global sekian lama? Bagi saya, sejauh ini tidak ada masalah menggunakan Bing. Saya dengan mudah menemukan hal-hal yang saya cari. Harus diakui Google terasa lebih lengkap, database Google jauh lebih banyak dibanding database Bing. Contoh saat tulisan ini dibuat adalah untuk pencarian kata kunci yang sama "susilo bambang", database Bing hanya memiliki data 520.000 result sementara Google mencapai 3.750.000. Sungguh jauh sekali. Juga dalam pencarian "michael jackson" yang sedang hot, Bing memiliki 90,000,000 sementara Google 309.000.000.

Namun pertarungan sebenarnya bagi saya sebenarnya hanya di halaman hasil pencarian pertama yang berisi 10 halaman web, dan paling jauh di halaman kedua. Jadi apalah artinya data yang segudang tapi toh yang di deliver ke pelanggan hanya 20-an dari database yang ada. Untuk pencarian-pencarian sederhana, saya membuktikan bahwa hasil pencarian Bing sudah masuk kategori memadai. Artinya saya mendapatkan yang saya cari. Namun harus diakui kalau untuk pencarian kompleks dan rumit, dimana kita memerlukan banyak referensi dari banyak sumber. Kemudian kata kunci yang dicari juga tidak umum, atau menggunakan bahasa Indonesia atau mungkin bahasa lain yang juga tidak umum, Google jauh lebih unggul dari Bing.

Saya kembalikan ke anda sebagai pengguna sesuai kebutuhan anda sendiri. Bagi saya, kelebihan Bing yang selalu memberi surprise dan mampu menyejukkan mata saya adalah kelebihan yang jauh lebih penting. Jadi saya akan tetap menjadikan Bing sebagai "home page" saya setiap masuk ke Internet. Jika perlu pencarian kompleks atau tidak puas dengan Bing, dengan sangat mudah saya bisa mencari lagi ke Google melalui search engine bar di sudut atas browser saya. Yahoo? Sementara tidak saya pakai, 2 ini saja cukup...































08 July 2009

Quick Count "Resmi" KPU dengan Teknologi Sederhana SMS Telkomsel

Akhirnya KPU mau juga melakukan quick count sendiri. Dengan sederhananya pilihan di Pilpres ini yang hanya ada 3 peserta, maka sangat memungkinkan melakukan quick count yang reliable. Dari berita yang dirilis Kompas di H-1 dari tanggal Pilpres, KPU bekerjasama dengan Telkomsel yang menyediakan sistem aplikasinya yang berbasis SMS, Telkomsel juga menyediakan 45 ribu nomor Telkomsel yang merupakan 10% dari total jumlah TPS, Telkomsel juga secara otomatis menyediakan jaringannya untuk penerapan sistem ini. Teknologinya sederhana dan operator telekomunikasi seluler pasti sudah sangat berpengalaman menjalankan operasi demikian. Rasanya polling KDI atau Indonesia Idol pasti akan lebih kompleks dari sistem ini.

Pertanyaan pertama adalah tentang pemilihan TPS yang dijadikan sampling, harus ada metode sampling yang betul-betul shahih agar bisa dapat hasil dengan margin error rendah. Pertanyaan kedua, sampai dimanakah para petugas KPU bisa akurat mengetik pesan pendek SMS sehingga bisa masuk dengan akurat ke sistem KPU/Telkomsel. Namun dengan sudah terbiasanya masyarakat mengetik berbagai pesan rumit berbasis teks seperti berbagai layanan "REG" di SMS, rasanya human error akan relatif rendah. Kita tunggu sama-sama, sampai sejauh mana sistem ini akan berhasil jalan mulus, dan seberapa jauh ketepatannya dalam meramah hasil akhir Pilpres.

Update 14 Juli 2009:
Setelah perhitungan beberapa hari pakai SMS, KPU menutup service ini tanpa alasan jelas. Saat saya ke situs KPU hanya tertulis bahwa perhitungan via SMS sudah ditutup. Sayang juga, sistem ini bisa menjadi alternatif yang baik bagi keadaan seperti di negeri kita, namun ternyata banyak faktor yang harus dipertimbangkan. Saya lampirkan dibagian bawah beritanya dari VivaNews.

--------------------
KPU Tayangkan "Quick Count" di Media Center
Selasa, 7 Juli 2009 | 23:14 WIB

Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan menayangkan hasil penghitungan suara cepat pemilu presiden, Rabu (8/8) besok. Rencananya, KPU akan memasang layar lebar di media center, Kantor KPU, Jakarta untuk menampilkan penghitungan suara cepat yang menggunakan sistem layanan pesan singkat (SMS).

"Di sini akan kita siapkan sebuah layar mungkin di media center yang bisa dilihat. Penghitungan suara selesai hari itu juga sampai jam 12.00 malam," kata Anggota KPU Abdul Aziz, ketika ditemui di Kantor KPU, Jakarta, Selasa (7/7) malam.

Aziz menjelaskan hingga kini pihaknya telah menyebarkan sekitar 45.000 nomor Telkomsel yang teregistrasi di tiap TPS atau sekitar 10 persen dari total jumlah TPS di Indonesia sebanyak 450.129 .

"Kami harap akan lebih banyak lagi, umumnya sudah mewakili wilayah NTT, Papua, Sumatera, Kalimantan, dan Jawa. Kami harapkan besok bisa 50.000 sampai 60.000," ujarnya.

Nantinya, anggota KPPS di tiap-tiap KPPS yang telah teregistrasi nomornya, akan mengirimkan secara langsung hasil perolehan suara melalui SMS ke KPU Pusat. Hasil SMS yang dikirimkan oleh anggota KPPS tersebut, akan langsung ditayangkan di Media Center KPU.

Terkait hal ini, menurut Aziz, pihaknya telah melakukan sosialisasi ke tiap-tiap TPS. Adapun untuk pengamanannya, Telkomsel, sebagai mitra kerjasama, telah menyiapkan jalur tersendiri untuk pengiriman SMS ini. "Semua data hanya bisa dibuka memakai kode khusus yang hanya satu orang KPU pusat yang tahu dan satu orang dari Telkomsel," tuturnya.

Penggunaan sistem SMS ini merupakan pilot project KPU. Bila dalam pilpres ini berhasil, KPU akan meningkatkannya untuk pilpres tahap II.

-----------------------

Tabulasi Pilpres KPU Dihentikan
Jeirry : KPU Terlalu Bergantung Pada IF ES
Penghentian ini dinilai sebagai salah satu akibat dari kurangnya kordinasi.
Jum'at, 10 Juli 2009, 16:46 WIB
Ismoko Widjaya, Mohammad Adam
http://politik.vivanews.com/news/read/74173-kpu_diduga_telah_diintervensi_asing

Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah menghentikan penghitungan suara tabulasi nasional Pemilu Presiden (Pilpres) melalui SMS (pesan singkat). Jeirry Sumampow, Kordinator Nasional Komite Pemilih Indonesia (TEPI) mengeceam keras. Dia menuduh IFES berada dibalik penghentian itu.

IFES atau International Foundation for Electoral System adalah organisasi nirlaba asal Amerika Serikat. Dalam pemilihan presiden, lembaga itu membantu KPU melakukan tabulasi elektronik dengan mengunakan teknologi pesan pendek (SMS).

Hasil perhitungan suara dikirim secara langsung dari Tempat Pemungutan Suara (TPS) - lewat pesan pendek alias SMS - ke Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Oleh karena jumlah TPS dalam pemilihan presiden sekitar 450 ribu, maka sejumlah itu pula lah nomor telepon yang mengirim data ke pusat. Semua nomor telepon itu harus diformat secara khusus di KPU.

Semula perhitungan lewat SMS ini berjalan lancar. Sampai jumlah suara yang masuk sekitar 18 juta. Tapi sejak kemarin sore perhitungan elektronik itu berhenti sama, tanpa diumumkan sebab musababnya. Masyarakat tak bisa lagi mengakses pusat penghitungan suara Pilpres di situs resmi KPU.

Jeirry menilai bahwa semrawutnya perhitungan elektronik itu karena KPU semata-mata bergantung pada IFES. Semua mekanisme dan cara kerja hitung cepat ini juga diserahkan kepada IFES. "Mulai dari perencanaan hingga implementasinya dikerjakan oleh IFES, "kata Jeirry. Padahal, lanjutnya, "Kita tidak tahu, IFES ini kepentingannya apa. Kredibilitasnya juga diragukan," kata Jeirry.

Ketua KPU Abdul Hafiz Anshari menegaskan bahwa perhitungan elektronik itu diserahkan ke IFES karena berbagai pertimbangan. Antara lain karena IFES bersedia menanggung biaya program ini. Jadi meringankan beban KPU.

Program IFES itu sudah dipelajari secara seksama oleh KPU. "Program itu sudah dipelajari oleh tim IT kami. Kami menerima manfaat besar dari program ini," kata Hafiz usai sholat Jumat hari ini.

ismoko.widjaya@vivanews.com


04 July 2009

Mengapa Twitter Jadi Populer?

Twitter makin populer saja. Dulu sangat sulit membayangkan aplikasi online semacam ini bisa populer. Ide dasar layanan online ini sangat sederhana, bahkan terlalu sederhana. Bagaimana bisa populer? Namun diluar dugaan banyak pengamat (termasuk saya), ternyata aplikasi web ini menjadi sangat populer dan bisa mengubah pola hidup kita. Contoh terakhir adalah saat kerusuhan di Iran menyusul hasil pemilihan umum yang dianggap tidak benar. Twitter menjadi media informasi terdepan yang menampilkan update terkini up-to-second (bukan up-to-date lagi) dari garis depan di Iran sana. Bahkan pemerintah Amerika Serikat konon sampai meminta Twitter agar menunda jadwal off untuk maintenance saat lagi hangat-hangatnya kerusuhan di Iran agar dunia bisa tetap mengikuri berita dari sana.

Saya sudah lama jadi member di Twitter, tapi terus terang saja tidak punya "clue" sama sekali mau dipakai untuk apa aplikasi ini? Twitter di pandangan saya hingga beberapa bulan lalu adalah sekedar suatu "shoutbox" raksasa dimana semua orang bisa teriak apa saja dan dilihat oleh orang sedunia, baik melalui instant access ke situs utamanya atau dengan berlangganan tweet seseorang (di Twitter disebut "follow"). Jadi kalau orang tersebut "teriak" kita akan diberitahu. Ada-ada saja...

Saya berpendapat paling banter akan populer bagi para selebriti yang rajin tweeting kemudian di-follow oleh para penggemarnya. Ternyata tidak demikian saja perkembangannya.

Kita bisa search Twitter untuk melihat perkembangan trend info atas suatu hal. Ini satu fitur yang mungkin bisa sangat bermanfaat dalam mengkuti perkembangan dunia. Karena Twitter bukan menampilkan content info yang panjang dan formal, tapi berupa "celetukan-celetukan" yang bersifat instant, maka intensitas "teriakan" sangat tinggi, termasuk teriakan-teriakan yang serius dan memiliki nilai berita tinggi. Hasil search di Twitter mengenai Michael Jackson saat heboh wafatnya ybs ternyata memiliki "nilai" sangat tinggi dan bisa menyaingi hasil search engine serius seperti Google. Kita bisa mendapatkan "aroma" atau "keadaan terkini" secara real time terhadap apa yang dipikirkan, didiskusikan oleh dunia langsung dari "teriakan-teriakan" para member Twitter. Kalau search di Google misalnya, kita akan mendapatkan info lengkap, namun tidak bersifat "terkini" dan sulit mendapatkan gambaran cepat atas apa yang sedang terjadi.

Di era information overloaded seperti saat ini, kebutuhan ini jadi prioritas. Tidak ada cukup waktu untuk membaca detail satu per satu informasi kecuali untuk info yang memang kita butuhkan dalam bentuk detail. Twitter adalah salah satu solusi cepat untuk itu. Bahkan Google News yang revolusioner pun tidak akan mampu menarik minat pengunjung seperti Twitter yang sangat sederhana ini.

Hal ini didorong juga oleh berkembangnya penetrasi telepon seluler ke seluruh dunia. Tweeting dan menulis celetukan maksimum 160 karakter di Twitter menjadi sangat mudah karena bisa dilakukan dari ponsel langsung. Dibanding blogging yang harus menulis panjang, tweeting bisa pendek-pendek dan sering.

Maka meledaklah Twitter... meledak jumlah orang yang "teriak-teriak", meledak juga yang membacanya...

Saya pun termasuk yang kaget dengan perkembangan Twitter ini. Hari ini tanpa pernah melakukan update serius di account Twitter saya, sudah ada 17 orang yang follow saya di Twitter. Makanya saya jadi terpicu untuk mendalaminya dan lebih sering update. Paling tidak atas tulisan-tulisan di blog saya.

OK... FOLLOW ME ON TWITTER dong... Klik disini :-)

Mohamad Adriyanto

Perbandingan DSLR Entry Level Sony Alpha A200, Nikon D60 dan Canon EOS 1000D

Ada 3 pilihan saat tulisan ini dibuat bagi siapapun yang ingin membeli kamera digital DSLR entry level untuk pertama kalinya. Pilihan adalah Sony Alpha A200, Nikon D60 dan yang terbaru muncul diantara ketiganya adalah Canon EOS 1000D. Ketiganya memiliki piksel efektif 10 MP. Harga entry level DSLR begini memang semakin ekonomis, Sony dan Canon bahkan sudah tiba di kisaran harga Rp 5.200.000 hingga Rp 5.350.000 tanpa bonus apapun, namun khusus Nikon harga masih relatif tinggi diantara keduanya, diatas Rp 6.000.000.

Apa kelebihan dan kekurangannya? Tentu saja anda harus lakukan survey sendiri di Internet menggunakan Google atau yang lain, namun dari survey singkat saya, tampaknya Sony A200 berada di urutan terdepan dalam hal nilai yang ditawarkan.

Harga Sony A200 hari-hari ini jelas sangat miring, di Camera.co.id harganya sudah jatuh hingga Rp 5.200.000 sementara Canon EOS 1000D berada sedikit diatasnya di angka Rp 3.300.000. Bahkan Focus Nusantara menawarkan paket 2 kit lensa 18-70mm dan 75-300 dengan harga Rp 7.575.000. Pertanyannya, kenapa jatuh jauh harga Sony? Padahal Sony identik dengan harga relatif mahal? Prediksi saya, ini dikarenakan Sony sudah merilis Sony A230 yang merupakan product line baru Sony DSLR entry level sehingga stok yang ada di pasar mulai dibersihkan. Atau bisa juga karena beberapa anggapan bahwa Sony tidak memiliki jaringan after sales service yang baik. Ada juga yang mengatakan bahwa ini dikarenakan karena jajaran ketersediaan asesori Nikon dan Canon yang jauh lebih banyak.

Poin keunggulan lain Sony A200 adalah pada image stabilisation yang berada di kamera, bukan di lensa seperti Nikon D60 dan Canon EOS 1000D. Jadi jika kita ingin memiliki lensa baru untuk Sony, kita tidak perlu membeli lensa mahal yang ada fitur image stabilisation. Menurut beberapa review, fitur image stabilisation di Sony A200 adalah unsur keunggulan yang signifikan dibanding yang lain.

Juga disebutkan dalam beberapa review tentang keunggulan anti dust technology yang dipakai Sony A200 dibanding pesaing yang lain yang tidak memilikinya. Prinsipnya Sony memiliki 2 hal dalam urusan pembersihan lensa dari debu ini, yang pertama adalah penggunaan lapisan anti-dust coating yang dipasang di CCD filter dan yang kedua adalah anti-dust vibration yang secara kontinyu menggoyang/menggetarkan CCD agar debu tidak menempel.

Kit lensa (lens kit) yang dipakai standard oleh Sony adalah 18-70mm, sementara kedua saingan hanya menawarkan lensa standar 18-55mm. Yang jadi masalah adalah saat anda ingin memiliki lensa tambahan lain. Canon dan Nikon memiliki jajaran lensa yang jauh lebih banyak dan konon relatif murah, baik yang merek asli atau merek lain yang compatible seperti Tamron misalnya. Namun banyak yang tidak tahu bahwa kamera Sony adalah pengembangan dari Minolta, jadi lensa Minolta (dan Konica yang saat ini bergabung jadi Konica Minolta) bisa dipakai (compatible) dengan kamera Sony versi Alpha termasuk Sony A200.

Keunggulan lain adalah pada lebarnya LCD screen Sony A200 menggunakan 2.7" sementara yang lain hanya 2.5". Namun keunggulan Canon EOS 100D dibanding yang lain ada pada live view LCD. Ini adalah fitur yang cukup baru dipasang di kamera DSLR. Dulu, DSLR (dan SLR yang non-digital) dicirikan dengan pemotretan yang hanya bisa dilakukan melalui viewfinder kecil di kamera. Kita harus mengintip melalui lubang kecil untuk memotret. Ini kontras dengan kamera digital biasa yang semuanya menggunakan live view di LCD sehingga kita tidak perlu "mengintip" lagi. Namun DSLR mulai pelan-pelan mengadopsi teknologi ini. Nah, Sony A200 dan Nikon D60 tidak memiliki live view.

Sony A200 juga dikatakan memiliki keunggulan dalan auto focus yang tergolong canggih untuk segment entry level seperti ini dengan 9-point AF sementara yang lain hanya 6-7 point.

Kemudian di fitur yang sedikit advance yaitu spot metering dan exposure bracketing. Ini 2 hal penting yang akan membantu anda ketika mulai mengerti fotografi yang lebih advance. Sony A200 memiliki keduanya, Canon EOS 1000D tidak memiliki keduanya sehingga menjadi titik lemah Canon di banyak review profesional. Nikon D60 hanya memiliki spot metering.

Namun harus anda ketahui juga, dalam dunia fotografi yang advance, para fotografer kebanyakan memiliki fanatisme tersendiri terhadap merek tertentu. Para maniak Nikon dan Canon yang memang telah lebih dulu ada rata-rata sangat fanatik dan dalam memberikan pendapat bisa bias. Sony DSLR seri Alpha yang memang baru masuk pasar sekitar tahun 2006 memiliki penggemar fanatik yanglebih sedikit, jadi kalau anda cari review di Internet, akan lebih banyak menyuarakan para pengguna fanatik Nikon dan Canon.

Pilihan kembali ke masing-masing pengguna. Apalagi kalau dilihat secara umum, rata-rata perbedaan spesifikasi antara satu merek dan merek yang lain dalam satu segmen tidak terlalu jauh lagi. Jika ada fitur yang ada di merek tertentu dan tidak ada di merek lain, nanti di rilis seri berikutnya akan diadakan juga, demikian seterusnya.

Ingat juga bahwa kamera DSLR adalah kamera canggih yang memiliki banyak fitur manual. Hasil foto yang baik akan kembali pada ketrampilan fotografernya. Secanggih apapun kamera yang dipakai, bila yang memotret tidak memiliki keahlian memadai maka bisa dipastikan hasilnya akan biasa saja.

Lihat perbantingan spesifikasi ketiganya di DP Review secara head to head secara langsung, klik disini.

03 July 2009

Komputer vs Mesin Tik

Berikut sedikit cerita nyata mengenai teknologi dan pemanfaatannya yang tidak tepat guna. Cerita ini adalah contoh klasik dari bagaimana masyarakat melihat teknologi saat ini. Pandangan yang harusnya membuat kita semua berpikir kembali untuk apakah sebenarnya teknologi dibuat. Untuk mempermudah hidup? Atau malah mempersulit?


Pagi ini saya harus memperbarui KTP saya habis masa berlaku sekaligus hilang. Tahap pertama yang harus dilakukan adalah membawanya ke Ketua RT yang langsung mengeluarkan surat keterangan sederhana. Semua ditulis dengan tangan dan langsung distempel, 10 menit selesai. Kemudian saya menuju ke Kantor Kelurahan yang berada dekat rumah saya. Saat itu wilayah tempat tinggal saya tepat mendapat giliran pemadaman listrik. Urusan sangat lancar karena surat keterangan dari Lurah juga dikerjakan full secara manual dengan tulisan tangan. Hanya ada sedikit kesulitan ketika mencari data nomor KK dan "nomor SIAK" *) saya karena sangat jeleknya database mereka yang hanya berbasis buku-buku register lusuh.

Karena KTP asli saya yang lama hilang, maka saya harus meminta surat keterangan kehilangan dari Lurah. Majulah saya ke meja petugas khusus yang menangani masalah ini. Disini teknologi mulai digunakan. Dengan mesin tik petugas tersebut membuatkan saya surat keterangan. Data pribadi saya langsung diambil manual dari berkas-berkas untuk pengurusan KTP sebelumnya. Sedih juga melihat mesin tik yang digunakan, ternyata mesin ini telah rusak sehingga saat mengetik roll penahan kertas tidak bisa lagi otomatis bergerak kekiri. Jadi petugas tersebut membuat karet penarik menggunakan ban dalam bekas yang diikatkan ke ujung tuas mesin tik dan memaku ujung lainnya ke dinding di sebelah kiri mesin tik. Sehingga saat mengetik, kertas bisa bergerak kekiri tertarik oleh karet ini. Kreatifitas yang sangat tinggi sehingga bisa menghemat uang negara. Tidak perlu beli mesin tik baru. Dalam waktu sekitar 10 menit selesai.

Setelah itu, saya menuju ke kantor polisi karena harus membuat surat keterangan kehilangan KTP. Tampak segerombolan petugas polisi ngobrol di ruang penerima tamu. Mungkin karena listrik padam, mereka duduk-duduk saja karena tidak ada kerjaan. Saya lapor dan bilang bahwa saya ingin membuat surat keterangan kehilangan. Dengan santun petugas menjawab, "Maaf pak, listrik mati, kami tidak bisa membuatkan surat untuk bapak, silahkan datang lagi nanti siang". Jawaban ini ditimpali lagi oleh rekan polisi disebelahnya dengan logat Sumatera yang kental, "Gak bisa pak, listrik mati... gak bisa kerja lah kita semua ini...".

Saya langsung ingat para petugas di Kantor Kelurahan sebelumnya dan pak RT saya yang tidak terpengaruh sedikitpun oleh padamnya listrik. Artinya proses kerja mereka lebih realistis, yang penting pelayanan pelanggan bisa jalan, alat yang digunakan sedapat mungkin disesuaikan dengan kondisi lingkungan. Sudah tahu kota Samarinda tempat kami ini sangat sering mengalami pemadaman listrik bergilir, mengapa harus tergantung dengan komputer.

Saya yakin 100% bahwa komputer di kantor polisi tadi hanya digunakan untuk mengetik surat "manual" sederhana yang kemudian di-print di printer. Mungkin pakai MS Word. Kita harus tahu bahwa MS Word adalah teknologi versi lebih canggih dari mesin tik. Kalau untuk pekerjaan sederhana, posisi komputer tadi sama dengan mesin tik. Kecuali untuk keperluan-keperluan lain yang lebih kompleks.

Bisa jadi para polisi tadi terlalu malas, bukan karena tidak ada mesin tik di kantornya. Tapi cerita ini terjadi di hampir seluruh pelosok dunia. Inilah cara pandang umum masyarakat melihat teknologi. Kalau ada yang baru, kenapa pakai yang lama? Walaupun ternyata fungsinya sama...

Pesan ini tentu saja penting untuk diperhatikan oleh para pemegang keputusan dalam bidang apa saja. Wilayah Indonesia yang luas sebagian besar masih menghadapi kendala dasar infrastruktur berbasis teknologi. Ya listrik, ya telekomunikasi, dll... Buatlah program-program yang realistis sesuai keadaan masing-masing daerah.

Jangan sampai ada lagi penghamburan uang negara seperti untuk membelikan ribuan komputer untuk sekolah, kemudian disebar di daerah-daerah yang masih bermasalah dengan listrik, pasti mubazir. Kalaupun mereka menggunakan generator portabel untuk pembangkit listrik, tetap akan bermasalah karena komputer kemudian rusak karena power supply jebol tidak mampu menahan arus listrik yang tidak stabil.

Carilah teknologi "tepat guna" sesuai keadaan kita...

*) SIAK (Sistem Informasi Administrasi Kepegawaian)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...