Menarik membandingkan hardware dengan OS (operating system) dari PC dan mobile smartphone serta sejarahnya. Berikut salah satu bagian dari presentasi CEO Microsoft di CES 2011. Tampak bahwa memang secara garis lurus tampak peningkatan kemampuan hardware dengan OS seiring berjalannya waktu. Semakin maju teknologi hardware, semakin kuat hardware yang tersedia, maka OS juga menyesuaikan kemampuannya, atau sebaliknya? Kalau kita lihat, tampak bahwa generasi awal smartphone yang diwakili Sony Ericsson P800 (tahun 2002) hanya memerlukan prosesor berkekuatan 156 MHz untuk menjalankan OS Symbian yang cukup canggih. Tahun 2010 (8 tahun kemudian) hampir semua smartphone papan atas menggunakan prosesor 1 GHz dengan chip grafis tersendiri. OS yang tersedia juga sangat beragam mulai dari iOS, Android, Palm, BlackBerry dan Windows Phone 7.
Di kategori PC, tampak bahwa tahun 1999 PC masih menggunakan prosesor 100 MHz dengan OC Microsoft Windows 2000 yang kemudian segera diganti Windows XP yang minimal memakai prosesor 300 MHz. RAM 64 MB dan 128 MB pun masih cukup. Namun di 2010 ketika generasi Windows 7 muncul, spesifikasi minimal pun bertambah, prosesor 1 GHz dan RAM 1 GB. Entah seperti apa gambaran teknologi 10 tahun lagi?
Search This Blog
09 January 2011
05 January 2011
Facebook di Amerika dan Indonesia
Beberapa teman bule saya di Amerika ternyata hanya memiliki sangat sedikit teman di Facebook. Tentu saja "sedikit" jika dibanding rata-rata para pengguna Facebook di Indonesia. Teman Facebook Indonesia saya memiliki jumlah teman yang kadang kala agak tidak masuk akal. Saya sendiri memiliki ribuan teman, walau sebagian besar adalah "teman" yang tidak saya kenal. Kenapa bisa demikian? Penjelasan paling logis adalah karena orang Indonesia memang bersifat sosial dan komunal, sementara orang bule Amerika lebih individualistis. Hal ini mengakibatkan Facebook jauh lebih cepat berkembang di kalangan masyarakat seperti Indonesia, sementara di negara barat pertumbuhannya tidak seheboh disini.
Facebook, secara bisnis saat ini memiliki nilai 50 milyar dollar (setara 500 triliun rupiah). Angka yang sangat fantastis mengingat tahun 2007 hanya bernilai 15 milyar dollar. Kenaikan lebih dari 3 kali lipat dalam waktu hanya 3 tahun. Namun yang menarik, di kalangan masyarakat Amerika sendiri persepsi terhadap Facebook tetap terus miring, artinya sebagian tetap terus menyoroti Facebook sebagai wahana yang harus dihindari karena sangat longgar dalam menjaga privacy penggunanya. Sebagian menganggapnya sebagai media online yang hanya populer di kalangan istri yang kesepian, remaja yang kuper, selebriti yang memakainya sebagai simbol ketenaran, serta para penggila teknologi yang tidak peduli dengan privacy. Sebagian masyarakat lain yang tergolong orang sukses dan sibuk, profesional, manula, cenderung tidak menggunakan atau tidak aktif di Facebook.
Hal sebaliknya terjadi di Indonesia. Melihat kecenderungan ini, saya melihat peluang yang sangat besar bagi kita untuk "melompati" orang-orang barat. Facebook, tak dapat disangkal lagi, adalah teknologi yang sangat luar biasa, sangat terbuka untuk dimanfaatkan dalam berbagai hal. Mulai dari sekedar berkomunikasi, menjalankan bisnis, bekerja, dll. Kita melihat banyak hal positif, banyak terobosan kreatif yang telah dilakukan melalui teknologi Facebook. Biarlah orang Amerika tetap skeptis, kita harus tetap semangat memanfaatkannya, siapa tahu "the next big thing" dalam social media akan bermunculan dari Indonesia.
Subscribe to:
Posts (Atom)

