Baru genap 2 bulan umurnya, layanan Google yang baru ini memang lagi "hot". Diawal peluncurannya, begitu banyak pihak sibuk mencari invite karena tidak semua orang bisa mendaftar di layanan baru ini. Diberi nama Google+ (dibaca Google Plus), layanan ini bahkan belum masuk tahap alpha atau beta, tahapan yang biasa dilalui dalam proses pengembangan software dimana sebagian orang bisa ikut mencoba dan memberi masukan. Google+ masih tahap "field trial". Baru dibuat, masih belum ada bentuk bakunya, tapi sudah dilempar ke publik.Konon dalam waktu kurang dari 1 bulan, jumlah penggunanya telah mencapai 18 juta user. Sebagian pengguna awal ini adalah para "geek" yang biasanya pelit dalam memberi tanggapan positif. Nah... dalam kasus Google+ justru sebaliknya yang terjadi. Hampir semua review berisi tanggapan positif, padahal produknya sendiri belum ada bentuk :-(
Hebat... memang sebagian besar penilai lebih melihat potensi Google+ kedepan. Bayangkan jika seluruh produk Google yang hebat seperti Docs, Gmail, YouTube, Picasa, Blogger, Android, dll bisa terintegrasi dengan dukungan puluhan ribu programmer top dunia di belakangnya. Siapapun yang menjadi musuh akan takut. Namun bagi para pendukungnya potensi ini sungguh membuat hati dan pikiran kita menjadi bersorak sekaligus tegang, akankah layanan ini mampu memenuhi harapan dan ekspektasi jutaan orang yang mulai bosan dan bahkan muak dengan Facebook?
Tapi pertanyaan selanjutnya, apakah Google+ akan bersaing dengan Facebook? Bisa jadi bukan. Dengan Twitter? Bukan juga... dengan Microsoft dan Yahoo? Mungkin juga... Lalu dengan siapa? Jawaban yang paling tepat mungkin adalah dengan "ekspektasi masyarakat". Ingat bahwa Google pernah punya pengalaman buruk dengan berbagai produk berkualitas tinggi seperti Wave, Knol, Buzz, Orkut, dll. Enjoy... dan masukkan saya dalam circle Google+ anda :-)
Search This Blog
31 July 2011
30 July 2011
Ironi Apple vs USA
Seperti mungkin anda sudah dengar, saat ini negera raksasa alias super power Amerika Serikat sedang mengalami kesulitan besar dalam ekonominya. USA dicekik oleh hutang luar biasa besar yang mencapai USD 14,3 triliun atau dalam rupiah sekitar Rp 130 ribu triliun (mudah-mudahan tidak salah hitung). Sementara uang kontan yang ada di tangan Pemerintah USA hanya USD 73,7 miliar alias hanya 0,5% (kurang dari 1%) dari hutang mereka. Sangat parah.
Namun bukan itu yang akan saya soroti di blog ini karena tidak ada hubungannya dengan teknologi. Saya ingin memberikan informasi bahwa ternyata di USA, ada perusahaan swasta yang memiliki uang kontan di tangan lebih besar dari pemerintah. Di tahun 2011 ini tercatat Apple Inc. memiliki cash in hand (bukan keuntungan, bukan omzet) USD 76,4 miliar. Apple dibawah Steve Jobs mampu mengumpulkan uang segudang seperti itu dengan hanya jualan iPhone, iPad, Mac, iPod, dan teman-teman sejenisnya. Bisnis bidang teknologi informasi memang luar biasa.
Lalu, kembali ke persoalan hutang dan kemampuan membayar pemerintah USA, harusnya mereka minta Steve Jobs untuk mengajari mereka mengumpulkan uang yang banyak.
Namun bukan itu yang akan saya soroti di blog ini karena tidak ada hubungannya dengan teknologi. Saya ingin memberikan informasi bahwa ternyata di USA, ada perusahaan swasta yang memiliki uang kontan di tangan lebih besar dari pemerintah. Di tahun 2011 ini tercatat Apple Inc. memiliki cash in hand (bukan keuntungan, bukan omzet) USD 76,4 miliar. Apple dibawah Steve Jobs mampu mengumpulkan uang segudang seperti itu dengan hanya jualan iPhone, iPad, Mac, iPod, dan teman-teman sejenisnya. Bisnis bidang teknologi informasi memang luar biasa.
Lalu, kembali ke persoalan hutang dan kemampuan membayar pemerintah USA, harusnya mereka minta Steve Jobs untuk mengajari mereka mengumpulkan uang yang banyak.
Subscribe to:
Posts (Atom)

