Search This Blog

Loading...

Hexatar - Make your own cartoon picture

15 August 2008

Beberapa Alternatif Penerapan BSE (Buku Sekolah Elektronik)

Semakin banyak sekolah "ngambek" karena kebijakan BSE yang dikeluarkan sangat mepet dengan awal tahun pendidikan tahun 2008/2009 ini. Mereka "membiarkan" saja proses belajar tanpa buku pegangan di sekolah (termasuk di sekolah anak saya). Semakin banyak komplain bahwa file-file BSE sangat sulit dan lambat diakses dari server yang telah disediakan di http://bse.depdiknas.go.id. Belum terdengar satupun penerbit besar buku sekolah yang menyediakan BSE dalam bentuk cetakan resmi dengan HTE (harga terendah eceran) yang sudah ditetapkan Depdiknas. Padahal selama bertahun-tahun belakangan, mereka ini gentayangan di sekolah-sekolah seluruh penjuru nusantara jualan buku dan meraup untung yang tidak sedikit.

Ini adalah contah paling gres dari rumit dan kusutnya dunia pengelolaan pendidikan di negeri kita.

Mendiknas membalas berbagai keluhan dengan menegaskan bahwa BSE bukan ditujukan untuk sekolah, guru dan siswa, tapi untuk penerbit buku pendidikan. Jadi BSE disediakan sebagai bentuk "subsidi" langsung pemerintah terhadap harga buku pelajaran yang harus dibayar siswa. Selama ini buku disediakan oleh penerbit swasta (kurikulum disediakan oleh pemerintah). Penerbit yang menulis buku, mencetaknya dan mendistribusikannya. Satu biaya terbesar dipotong yaitu penulisan bukunya, sehingga penerbit tinggal keluar biaya pencetakan dan distribusi saja. Ujungnya biaya buku yang harus ditanggung masyarakat akan berkurang signifikan. Ide bagus yang menurut saya sangat perlu didukung.

Namun, bagaimana pelaksanaannya?

Satu hal paling kacau dari implementasi kebijakan BSE ini adalah adalah sosialisasinya yang sangat mepet, tidak jelas dan membuat timbulnya multi interpretasi di kalangan masyarakat. Lihat saja perbincangan guru-guru dibagian bawah tulisan ini yang saya dengar tidak hanya di milis-milis seperti di CFBE, tapi di hampir setiap sekolah di kota saya.

Bagaimana tidak? Guru-guru yang sekian lama telah dimanjakan oleh para penerbit akan kehilangan "pemasukan" tradisional mereka yang selama ini didapatkan di awal tahun ajaran baru. Guru dan sekolah tinggal "merekomendasikan" buku penerbit tertentu ke siswanya, dan mereka akan mendapat porsi "bagi hasil" yang sangat menggiurkan. Ini sudah rahasia umum yang biar digugat seperti apapun di rapat-rapat Komite Sekolah tetap saja berlangsung. Tentu saja hal ini sangat negatif dan sangat merugikan para siswa yang harus membayar komponen biaya "siluman" ini ke guru-gurunya.

Jadi faktor penting dari penerapan kebijakan ini adalah faktor "social enginering" nya. Penerapan BSE ini jelas "mengancam" suatu sistem status quo yang sudah berjalan sekian lama dan menyangkut periuk nasi ribuan orang di republik ini yang memanfaatkan situasi kebijakan pendidikan Indonesia yang kacau.

Pasti akan timbul resistensi dari elemen-eleman yang selama ini sudah nyaman menikmati keuntungan dari sistem lama. Kedatangan sistem baru yang hanya berhenti di tataran pembuatan kebijakan dan implementasi lapangan setengah hati (berupa penyediaan mekanisme download via Internet) ternyata TIDAK CUKUP. Dibutuhkan upaya lebih kuat lagi dari Depdiknas untuk memuluskan program mulia ini agar jalan di lapangan. Upaya agar tidak mengorbankan jutaan siswa Indonesia yang terlantar belajar tanpa buku pegangan yang memadai karena para guru dan penerbit "ngambek".

Jadi, bagi saya, problemnya terletak pada bagaimana "distribusi" buku-buku baru ini bisa sampai ke tangan para siswa secepat mungkin, semurah mungkin dan dalam kualitas buku yang tetap standar. Mengharapkan guru dan penerbit existing? Rasanya sulit.

Bagaimana caranya? Saya juga tidak tahu...

Namun beberapa pemikiran sederhana muncul, jalur distribusi harus dipotong. Bagi saya dan anak saya yang bisa download BSE dengan mudah dan sangat cepat, saya tidak punya banyak masalah, keluar uang sedikit lebih, saya download file-filenya (sangat cepat melalui situs http://bse.depdiknas.go.id dengan memilih server Telkom Speedy), kemudian saya print sendiri. Mahal? Tentu saja. Namun sebanding lah biayanya dibanding harga buku-buku tahun sebelumnya. Namun ternyata problemnya ada di guru sekolahnya yang tidak menggunakannya. Nah???

Pemecahan kedua adalah dengan menggunakan penerbit-penerbit "non-existing" yang bisa dikerahkan untuk mecetak massal buku-buku baru ini dan menjualnya melalui upaya "normalisasi pasar" di tempat-tempat strategis dengan harga HET.

Salah satu contoh yang sudah diupayakan adalah oleh sebuah penerbit dari Surabaya bernama PT. Bina Ilmu. Perusahaan penerbitan dan percetakan ini menawarkan buku BSE cetakan dengan harga murah kepada sekolah manapun yang mau mencetaknya disana. Bahkan mereka menawarkan cover yang bisa ditambahkan nama dan logo sekolah masing-masing. Sekolah (atau koperasi sekolah) katanya bisa ikut langsung mendistribusikan buku BSE harga HET ini langsung ke siswa mereka.

Pemecahan lain? Akan saya upayakan ikut kontribusi terus melalui blog ini.

Sedikit tips bagi yang ingin men download BSE secara mudah dan cepat melalui http://bse.depdiknas.go.id:
- Pilih server Telkom Speedy (bukan Jardiknas, UI atau ITS)
- Lakukan malam hari untuk menghindari kepadatan lalu lintas Internet
- Beli DVD lengkapnya di http://juragan.kambing.ui.edu (harga total semua file sekitar Rp 100 ribuan)

Sebuah posting di milis terbesar mengenai pendidikan di Indonesia, CFBE di Yahoogroups.

BSE - dirasani
Posted by: hidden
Wed Aug 13, 2008 8:31 am (PDT)

Pagi itu guru2 ngumpul, dan hari itu memang tak ada pelajaran karena siangnya kita akan karnaval menyambut hari kemerdekaan. Ibu2 guru pada ngrumpi soal BSE.

"Dasar Orang pusat gak ngerti, emangnya gampang donlot buku sebesar itu. Saya sudah coba di rumah jeng, gak selesai2 jam-jam an. Mana pakai telkomnet instant, ndak tahu berapa saya musti bayar telpon bulan ini".

"Iya ya, bagaimana dengan daerah pinggiran kabupaten, di tengah hutan sana, apa mereka sudah punya internet??".

"Iya nih, gak tahu mikirnya gimana orang2 diatas sana. Apa dipikir disini keadaan seperti mereka ? internet mudah diakses".

"Iya jeng, mana isunya kita gak boleh jualan buku. Kalau jualan buku bisa masuk penjara".

"Waduh .... lha saya sudah buka http://www.bse.depdiknas.go.id gak ada buku saya, saya ngajar kimia padahal. Adanya cuman matematika, bahasa inggris dan bahasa indonesia!".

"Enak aja... kita2 khan harus ngajar sekarang. Kalau gak ada buku pegangan gimana? Anak2 juga pada resah gak jelas proses belajar mengajarnya. Harusnya mereka tuh para petinggi disana yang bertanggung jawab, mereka yang harusnya masuk penjara. Enak aja ngomongnya mereka!".


2 comments:

Choirul Anam said...

Betapa baiknya sebuah program yang digulirkan pemerintah saat ini, sudah dapat dipastikan lebih banyak mendapat sorotan yang negatif. Coba kita lihat kebijakan BSE, BLT, BBM, Jardiknas, dll. (apa ini karena di Indonesia sekarang banyak orng pandai.....dan sok pandai??? ). Yang akhirnya hanya menguras energi kita dalam berdiskusi. Saran saya, percayakan saja semua kebijakan itu kepada yang berkompeten. Sedangkan kita? mari kita ambil sisi-sisi positipnya demi kemajuan bangsa kita.
Demikian juga dengan BSE, mari kita manfaatkan sebesar-besarnya demi kemajuan anak didik kita. Kita hentikan saja polemik yang tidak ada habis-habisnya ini. Cari solusi terhadap masalah-masalah yang mungkin timbul.

Mohamad Adriyanto said...

setuju pak anam, sebaiknya kita positif saja... mencoba terus mencari jalan agar program ini bisa jalan. sayang sekali uang milyaran rupiah yang sudah dibelanjakan untuk membeli hak cipta buku2 itu akhirnya tidak dipakai.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...